Jumat, 26 April 2013

Kejutan Untuk Rifa & Asya

Nama lengkapnya Arifani Anissa Puspita. Dipanggil Rifa. Dia berusia 12 tahun. Keluarganya hidup sederhana. Rumah Rifa berada didekat pegunungan. Karena keluarganya tak mempunyai uang, maka Rifa tak sekolah. Keinginan Rifa adalah bersekolah agar ia dapat menjadi orang yang berguna bagi bangsa Indonesia. Ayah dan ibunya, bekerja sebagai petani. Suatu hari, ia merenung dikamarnya.
"Hem... aku ingin.... sekali membantu orang tuaku. Tapi, dengan cara apa aku harus membantu mereka?" Tanya Rifa kepada dirinya sendiri.
"Kalau aku membantu mereka disawah... aku tidak bisa.. Aku tanya Asya saja!" Kata Rifa. Asya adalah sahabatnya. Asya sama dengan Rifa. Asya tidak sekolah. Orang tuanya pun pekerjaannya sama dengan orang tua Rifa. Terlihat Asya sedang duduk didepan rumahnya.
"Halo,Asya!" Sapa Rifa
"Halo juga, Rifa! Ada apa?" Tanya Asya.
"Aku mau minta saran dari kamu" Jawab Rifa.
"Saran apa?" Tanya Asya lagi.
"Aku mau bantu orang tuaku cari uang. Tapi... dengan cara apa? Kalau membantu disawah tidak bisa" Jelas Rifa.
"Em... apa,ya???" Kata Asya sambil berpikir.
"Aha! aku tau! Kamu bisa membuat kerajinan tidak?" Tanya Asya.
"Kerajinan apa?" Rifa balik bertanya.
"Ya seperti lukisan, rumah-rumahan dari stik es krim, asbak dari stik es krim, dan sebagainya" Jelas Asya.
"Bisa, kok!" Jawab Rifa singkat.
"Nah! kamu jual kerajinanmu saja!" Usul Asya.
"Aku juga berjualan seperti itu. Apa kamu mau berjualan denganku?" Sambungnya.
"Mau!" Balas Rifa bersemangat.
"Tapi dimana?" Tanya Rifa.
"Kan, disana ada jalan pintas, dan disitu banyak orang. Jadi kita jualan disana saja" KataAsya.
"Ok! Aku buat kerajinannya dulu, ya!" Pamit Rifa. Asya menganguk. Rifa pun menuju ke rumahnya. Ia memulai membuat kerajinannya.


"Sudah jadi" Kata Rifa. Kaerena hari sudah sore, Rifa langsung mandi dan sarapan. Setelah sarapan, ia membaringkan tubuhnya dikasur. Ia melihat kerajinan-kerajinannya yang ia buat tadi. Tampak cukup sederhana. Tak lama kemudian, ia tertidur.


Ia segera mandi. Waktu menunjukkan pukul 08.00. Setelah mandi dan sarapan, Rifa menuju kerumah Asya.
Tokk...tokk...tok... bunyi pintu rumah Asya yang diketuk oleh Rifa. Asya pun keluar.
"Mana kerajinanmu?" Tanya Asya.
"Ini" Jawab Rifa seraya menunjukkan kerajinannya yang dibungus kantong plastik. 
"Ayo!" Ajak Asya.
"Oh iya, kamu sudah pamit orang tuamu, kan?" Tanya Asya memastikan.
"Sudah, lah!" Kata Rifa. Mereka menuju jalan pintas yang ditunjuk oleh Asya. Jalan pintas itu, jalan yang sering dilewati orang untuk menuju jalan raya. Sesampainya dijalan itu, Asya dan Rifa menata kerajinan mereka dengan rapi.


Setengah jam kemudian...
"Kok tidak ada yang beli, ya?" Tanya Rifa kepada Asya.
"Tenanglah.. pasti ada, kok!" Kata Asya menyemangati Rifa. Tiba-tiba sebuah mobil mewah berhenti didepan mereka. Keluarlah seorang ibu yang sangat cantik.
"Saya beli semuanya" Kata ibu itu. Asya dan Rifa terbelak kaget. Dengan semangat mereka membungkus kerajinan mereka yang agak banyak. Mereka masing-masing diberi uang 2 Juta rupiah.
"Bu, uang ini kelebihan" Kata Asya memberanikan diri.
"Tidak usah kembali. Simpanlah uang itu" Balas ibu tadi lalu masuk ke mobilnya dan meninggalkan mereka berdua. Mereka tampak bahagia.
"Inilah rezeki" Kata Rifa. Mereka pun pulang dengan senang.


1 minggu setelah berjualan, rumah Asya dan Rifa diperbaiki. Mereka sudah dapat bersekolah. Ternyata orang yang membeli kerajinan Asya dan Rifa adalah seorang bengsawan. Rumah Asya dan Rifa juga sudah pindah. Tetapi, rumah mereka tetap berdekatan.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar