This My Blog
Jumat, 26 April 2013
Seven Wonders dan Top 3 Aku & Hobiku
Dan ini dia Seven Wonders dan Top 3-nya... Jrrengg.. Jrenggg!!
#SEVENWONDERS
*Fishing Is Amazing : Shofiyyah Lukman
#SEVENWONDERS
*Tragedi Di Minggu Pagi : Salsa Putri Sadzwana Br. Sihombing
#SEVENWONDERS
*Gara-Gara Almas : Berliana Putri Muliatama
#SEVENWONDERS
*Dance Competition : Shadiqia Callula Zalfa
#SEVENWONDERS
*Bereksperimen Di Dunia Masakan : Muhammad Rafid Nadhif Rizqullah
#SEVENWONDERS
*Sakitku Karena Durian : Aufa Alya Hanifah
#SEVENWONDERS
*Jangan Berhenti : Relani Fevtyana <----- :D
#TOP3 (Peringkat ke 3)
*Milky, Pulanglah : Indri Riskika Muliatama
#TOP3 (Peringkat ke 2)
*Something...Something...Thing...!!! : Fayanna Ailisha Davianny
#TOP3 (Peringkat ke 1) ~Cerpen Terbaik~
*Tersandung Copyright : Muthia Fadhila Khairunnisa
Alhamdulillah juga namaku masuk Seven Wonders. Bagi kamu yang belum masuk jangan putus asa, ya! Masih ada lomba lainnya yaitu Lomba 'Aku & Tetanggaku' Okey?? Bye!
20 besar Aku & Hobiku
Alhamdulillah.. Aku disebut dalam pengumuman Lomba KKPK 'Aku & Hobiku'. Inilah 20 besar, Seven Wonders, dan Top 3 Lomba Cerpen Aku & Hobiku!! Dari Kak Moemoerizal di www.darmizan.com//index.php?topic=6578.0
Info:
Urutan 20 besar yang kakak umumkan ini secara acak,ya...
Bukan berdasarkan nilai...
Bukan berdasarkan alfabet nama penulis atau judul...
#1. Lovely Chess : Prasetyaning Hutami, 11 tahun, Bandar Lampung.
#2. Something...something..thing...!!! : Fayanna Aillisha Davianny, 8 tahun, Depok.
#3. Keterusan Mengetik : Idzuha Zuhru Viraf, 11 tahun, Bekasi.
#4. Sakitku Karena Durian : Aufa Alya Hanifah, Jambi
#5. Tomboy Girls : Ayesha Kamila Rafifah, 10 tahun, Jakarta.
#6. Sang Pemimpin : Katya Namora, 10 tahun, Jakarta.
#7. Me Without Paper and Pencil : Chaca, Jakarta.
#8. Fishing Is Amazing : Soffiyah Lukman, 10 tahun, Makassar.
#9. Tersandung Copyright : Muthia Fadhila Khairunnisa, 12 tahun, Jakarta.
#10. Gara-Gara Almas : Berliana Putri Muliatama, 11 tahun, Mojokerto.
#11. Footbal Girl : Amidatul Izzah, 12 tahun, Sukoharjo.
#12. Pilih Internetan, Membaca, Atau Menulis? : Dientianovi Ridaul Maghfiroh, 10 tahun, Tegal.
#13. Jangan Berhenti : Relani Fevtyana, 10 tahun, Jombang. <----
#14. Jadi Ketagihan, Deh! : Nabila Andara Putri, 12 tahun, Bacan, Maluku Utara.
#15. Kena Batunya, Deh! : Nada Shafa Kamilah, 11 tahun, Tangerang.
#16. Tragedi Di Minggu Pagi : Salsa Putri Sadzwana Br. Sihombing, 12 tahun, Medan
#17. Bola-Bola Cokelat : Ayu Kusumaningdiyah, 12 tahun, Bondowoso.
#18. Dance Competition : Shadiqia Callula Zalfa, 11 tahun, Bandung.
#19. Bereksperimen Di Dunia Masakan : Muhammad Rafid Nadhif Rizqullah, 9 tahun, Bandung.
#20. Milky, Pulanglah! : Indri Riskika Muliatama, 8 tahun, Mojokerto.
Itulah 20 besarnya. Tunggu yang Seven Wonders dan Top 3-nya ya!!
Info:
Urutan 20 besar yang kakak umumkan ini secara acak,ya...
Bukan berdasarkan nilai...
Bukan berdasarkan alfabet nama penulis atau judul...
#1. Lovely Chess : Prasetyaning Hutami, 11 tahun, Bandar Lampung.
#2. Something...something..thing...!!! : Fayanna Aillisha Davianny, 8 tahun, Depok.
#3. Keterusan Mengetik : Idzuha Zuhru Viraf, 11 tahun, Bekasi.
#4. Sakitku Karena Durian : Aufa Alya Hanifah, Jambi
#5. Tomboy Girls : Ayesha Kamila Rafifah, 10 tahun, Jakarta.
#6. Sang Pemimpin : Katya Namora, 10 tahun, Jakarta.
#7. Me Without Paper and Pencil : Chaca, Jakarta.
#8. Fishing Is Amazing : Soffiyah Lukman, 10 tahun, Makassar.
#9. Tersandung Copyright : Muthia Fadhila Khairunnisa, 12 tahun, Jakarta.
#10. Gara-Gara Almas : Berliana Putri Muliatama, 11 tahun, Mojokerto.
#11. Footbal Girl : Amidatul Izzah, 12 tahun, Sukoharjo.
#12. Pilih Internetan, Membaca, Atau Menulis? : Dientianovi Ridaul Maghfiroh, 10 tahun, Tegal.
#13. Jangan Berhenti : Relani Fevtyana, 10 tahun, Jombang. <----
#14. Jadi Ketagihan, Deh! : Nabila Andara Putri, 12 tahun, Bacan, Maluku Utara.
#15. Kena Batunya, Deh! : Nada Shafa Kamilah, 11 tahun, Tangerang.
#16. Tragedi Di Minggu Pagi : Salsa Putri Sadzwana Br. Sihombing, 12 tahun, Medan
#17. Bola-Bola Cokelat : Ayu Kusumaningdiyah, 12 tahun, Bondowoso.
#18. Dance Competition : Shadiqia Callula Zalfa, 11 tahun, Bandung.
#19. Bereksperimen Di Dunia Masakan : Muhammad Rafid Nadhif Rizqullah, 9 tahun, Bandung.
#20. Milky, Pulanglah! : Indri Riskika Muliatama, 8 tahun, Mojokerto.
Itulah 20 besarnya. Tunggu yang Seven Wonders dan Top 3-nya ya!!
Lolypop Shop Part 2
Setelah tidur, Pearl merasa giginya tak sakit lagi. Dan ada satu lagi. Pearl terkejut bukan main!. Ada kalung bergambar lolipop di lehernya. Ia juga menemukan secarik kertas. Begini isinya...
Aku adalah peri lolipop. Aku yang memberimu kalung lolipop kepadamu. Kalung itu mempunyai kekuatan. Bahkan kekuatan apapun yang kamu mau. Tetapi, untuk melakukan kejahatan, kalung ini tak bereaksi. Maka jagalah kalung itu. Kalung itu akan sangat berharga bagimu. Oh iya... Jangan lupa, habis makan lolipop, kamu harus sikat gigi. Dan satu lagi, jika kamu ingin bertemu denganku atau membutuhkanku, panggilah aku dengan cara: genggam kalung itu dan ucapkan " Peri Loli Liliva, muncullah" maka aku akan muncul dihadapanmu.
Peri Lolipop Liliva
"Terima kasih, peri Liliva" Kata Pearl dalam hati. Ia sangat gembira. Kemudian, ia mempunyai ide bagus. Ia pun memanggil Peri Liliva. Ia menggenggam kalung itu.
"Peri Liliva, muncullah!" Kata Pearl. Sekejap kemudian, peri cantik bersayap biru ke unguan itu benar-benar muncul dihadapan Pearl.
"Ada apa, Pearl?" Tanya Peri Liliva.
"Peri Liliva, aku ingin membuka toko lolipop. Dan tokoku itu, laris dibeli anak-anak" Ucap Pearl. Peri Liliva berpikir sejenak.
"Em... bagaimana,ya??" Kata Peri Liliva.
"Aku mohon..." Harap Pearl.
"Ok... aku kabulkan permintaanmu. Tapi, kamu harus izin dulu ke ibumu" Ujar Peri Liliva.
"Ok! Terima kasih, Peri Liliva!" Kata Pearl.
"Sama-sama" Balas Peri Liliva. "Sekarang kamu izin dulu. Dan aku harus kembali sebentar ada urusan. Jika sudah selesai, ucapkanlah lewat kalungmu itu" Kata Peri Liliva. Tak lama kemudian, Peri Liliva menghilang. Dan Pearl meminta izin kepada ibunya.
"Bu, boleh tidak Pearl membuka toko lolipop?" Tanya Pearl.
"Tapi, kan, kamu masih kecil" Jawab ibu Pearl.
"Ayolah, bu... Pearl ingin sekali.... Pearl juga dibantu, kok sama teman Pearl. Namanya... em...em... Liliva. Ya bu, ya?" Rayu Pearl.
"Ya sudah. Ibu perbolehkan. Tetapi, pelajaran tidak boleh dilewatkan, ya!" Balas ibu Pearl.
"Iya... terima kasih, bu.." Ucap Pearl.
"Sama-sama" Jawab ibunya. Pearl pun menuju kekamar. Ia mengucapkan bahwa ia diperbolehkan oleh ibunya lewat kalungnya.
"Peri Liliva, aku diperbolehkan oleh ibuku" Ucap Pearl.
"Oh ya sudah. Sebentar lagi aku akan kesana" Balas Peri Liliva. Pearl tak menjawab. Ia malah bersorak gembira sambil meloncat-loncat diatas tempat tidur.
Beberapa menit kemudian, Peri Liliva muncul sambil tersenyum.
"Ada apa?" Tanya Pearl.
"Mari ikut aku" Kata Peri Liliva. Pearl pun mengikuti langkah Peri Liliva. Ibu Pearl sedang pergi. Jadi ibu Pearl tidak tau. Pearl terkejut sekaligus senang. Toko Lolipop miliknya sudah ada didepan rumahnya. Banyak anak yang sudah ada didepan tokonya. Tulisannya masih 'Tutup' jadi mereka belum bisa masuk. Toko itu juga sudah diresmikan oleh pemerintah. Tinggal memotong pita peresmian. Pearl pun memotongnya. Dan sekarang.... toko itu dibuka. Dengan terburu-buru, anak-anak memasuki toko yang luas itu. Disana ada berbagai macam lolipop. Pearl senang... sekali. Ia berterima kasih kepada Peri Liliva. Peri Liliva ikut senang.
Setiap harinya, toko itu selalu ramai dengan pembeli. Ibu Pearl senang karena anaknya sudah memiliki uang sendiri. Itu berkat Peri Liliva yang sudah membantunya. Kalung lolipop pemberian Peri Liliva pun selalu dipakainya. Setiap hari, dimana saja, dan kapan pun....
Aku adalah peri lolipop. Aku yang memberimu kalung lolipop kepadamu. Kalung itu mempunyai kekuatan. Bahkan kekuatan apapun yang kamu mau. Tetapi, untuk melakukan kejahatan, kalung ini tak bereaksi. Maka jagalah kalung itu. Kalung itu akan sangat berharga bagimu. Oh iya... Jangan lupa, habis makan lolipop, kamu harus sikat gigi. Dan satu lagi, jika kamu ingin bertemu denganku atau membutuhkanku, panggilah aku dengan cara: genggam kalung itu dan ucapkan " Peri Loli Liliva, muncullah" maka aku akan muncul dihadapanmu.
Peri Lolipop Liliva
"Terima kasih, peri Liliva" Kata Pearl dalam hati. Ia sangat gembira. Kemudian, ia mempunyai ide bagus. Ia pun memanggil Peri Liliva. Ia menggenggam kalung itu.
"Peri Liliva, muncullah!" Kata Pearl. Sekejap kemudian, peri cantik bersayap biru ke unguan itu benar-benar muncul dihadapan Pearl.
"Ada apa, Pearl?" Tanya Peri Liliva.
"Peri Liliva, aku ingin membuka toko lolipop. Dan tokoku itu, laris dibeli anak-anak" Ucap Pearl. Peri Liliva berpikir sejenak.
"Em... bagaimana,ya??" Kata Peri Liliva.
"Aku mohon..." Harap Pearl.
"Ok... aku kabulkan permintaanmu. Tapi, kamu harus izin dulu ke ibumu" Ujar Peri Liliva.
"Ok! Terima kasih, Peri Liliva!" Kata Pearl.
"Sama-sama" Balas Peri Liliva. "Sekarang kamu izin dulu. Dan aku harus kembali sebentar ada urusan. Jika sudah selesai, ucapkanlah lewat kalungmu itu" Kata Peri Liliva. Tak lama kemudian, Peri Liliva menghilang. Dan Pearl meminta izin kepada ibunya.
"Bu, boleh tidak Pearl membuka toko lolipop?" Tanya Pearl.
"Tapi, kan, kamu masih kecil" Jawab ibu Pearl.
"Ayolah, bu... Pearl ingin sekali.... Pearl juga dibantu, kok sama teman Pearl. Namanya... em...em... Liliva. Ya bu, ya?" Rayu Pearl.
"Ya sudah. Ibu perbolehkan. Tetapi, pelajaran tidak boleh dilewatkan, ya!" Balas ibu Pearl.
"Iya... terima kasih, bu.." Ucap Pearl.
"Sama-sama" Jawab ibunya. Pearl pun menuju kekamar. Ia mengucapkan bahwa ia diperbolehkan oleh ibunya lewat kalungnya.
"Peri Liliva, aku diperbolehkan oleh ibuku" Ucap Pearl.
"Oh ya sudah. Sebentar lagi aku akan kesana" Balas Peri Liliva. Pearl tak menjawab. Ia malah bersorak gembira sambil meloncat-loncat diatas tempat tidur.
Beberapa menit kemudian, Peri Liliva muncul sambil tersenyum.
"Ada apa?" Tanya Pearl.
"Mari ikut aku" Kata Peri Liliva. Pearl pun mengikuti langkah Peri Liliva. Ibu Pearl sedang pergi. Jadi ibu Pearl tidak tau. Pearl terkejut sekaligus senang. Toko Lolipop miliknya sudah ada didepan rumahnya. Banyak anak yang sudah ada didepan tokonya. Tulisannya masih 'Tutup' jadi mereka belum bisa masuk. Toko itu juga sudah diresmikan oleh pemerintah. Tinggal memotong pita peresmian. Pearl pun memotongnya. Dan sekarang.... toko itu dibuka. Dengan terburu-buru, anak-anak memasuki toko yang luas itu. Disana ada berbagai macam lolipop. Pearl senang... sekali. Ia berterima kasih kepada Peri Liliva. Peri Liliva ikut senang.
Setiap harinya, toko itu selalu ramai dengan pembeli. Ibu Pearl senang karena anaknya sudah memiliki uang sendiri. Itu berkat Peri Liliva yang sudah membantunya. Kalung lolipop pemberian Peri Liliva pun selalu dipakainya. Setiap hari, dimana saja, dan kapan pun....
Lolypop Shop Part 1
Pearl anak berusia 8 tahun. Ia suka.... sekali yang namanya LOLIPOP. Hampir setiap hari, ia membeli lolipop. Apa nggak bosen?. Ibunya sudah berulang kali mengingatkan Pearl begini " Pearl, jangan makan lolipop terus. Nanti sakit gigi, lho!" Tetapi, Pearl tetap saja bandel. Ia terus... memakan lolipop.
Suatu hari...
"Aaa!! bu!! gigiku sakit!" Jerit Pearl.
"Tuh,kan! apa yang ibu bilang! Jangan makan lolipop lagi" Kata ibu Pearl. Pearl menganguk.
"Ya sudah. Kita pergi ke dokter saja. Tapi janji, ya... Pearl nggak boleh makan lolipop sering-sering!" Ingat ibunya.
"Iya" Balas Pearl. Pearl dan ibunya pun pergi ke dokter dekat rumahnya itu.
Sesampainya di dokter...
"Dok, ini anak saya.. giginya sakit gara-gara makan lolipop" Kata ibu Pearl kepada dokter. Dokter itu bernama Dokter Riana.
"Oh... saya periksa dulu, ya" Kata dokter Riana. Dokter Riana pun memeriksa gigi Pearl. Setelah itu, Pearl diberi obat sakit gigi.
"Berapa, dok?" Tanya ibu Pearl.
"30.000" Jawab dokter Riana. Ibu Pearl pun menyerahkan uang 30.000.
"Terima kasih, dok" Kata ibu Pearl.
"Sama-sama" Balas dokter Riana. Ibu dan Pearl pulang kerumah.
Sesampainya dirumah....
"Nah Pearl, sekarang makan dulu. Nanti sehabis makan minum obat" Kata ibu. Pearl menganguk. Pearl makan. Tiba-tiba...
"Aw! hik..." Jerit Pearl.
"Kenapa?" Tanya ibunya.
"Gigiku sakit untuk mengunyah" Kata Pearl.
"Ya sudah. Ibu belikan bubur saja" Balas Ibunya. Ibu Pearl melihat ada orang yang sedang menjual bubur didepan rumahnya. Ibu Pearl menuju kearah orang itu.
"Bu, beli buburnya 1" Kata ibu Pearl.
"Ini" Kata penujual itu seraya memberikan buburnya "4.000". Ibu Pearl pun memberikan uang 4.000 rupiah kepada sang penjual. Ibu Pearl masuk kedalam rumah lalu menyerahkan bubur kepada Pearl.
"Ini" Kata ibu Pearl sambil menyerahkan bubur tadi. Pearl memakannya dengan tenang.
Setelah makan...
"Ayo minum obat" Ujar ibu Pearl. Pearl menuruti perkataan ibunya.
"Sekarang kamu boleh tudur" Ucap ibu Pearl. Pearl menuju kamarnya dan segera tidur.
Bersambung.... Tunggu selanjutnya!!
Suatu hari...
"Aaa!! bu!! gigiku sakit!" Jerit Pearl.
"Tuh,kan! apa yang ibu bilang! Jangan makan lolipop lagi" Kata ibu Pearl. Pearl menganguk.
"Ya sudah. Kita pergi ke dokter saja. Tapi janji, ya... Pearl nggak boleh makan lolipop sering-sering!" Ingat ibunya.
"Iya" Balas Pearl. Pearl dan ibunya pun pergi ke dokter dekat rumahnya itu.
Sesampainya di dokter...
"Dok, ini anak saya.. giginya sakit gara-gara makan lolipop" Kata ibu Pearl kepada dokter. Dokter itu bernama Dokter Riana.
"Oh... saya periksa dulu, ya" Kata dokter Riana. Dokter Riana pun memeriksa gigi Pearl. Setelah itu, Pearl diberi obat sakit gigi.
"Berapa, dok?" Tanya ibu Pearl.
"30.000" Jawab dokter Riana. Ibu Pearl pun menyerahkan uang 30.000.
"Terima kasih, dok" Kata ibu Pearl.
"Sama-sama" Balas dokter Riana. Ibu dan Pearl pulang kerumah.
Sesampainya dirumah....
"Nah Pearl, sekarang makan dulu. Nanti sehabis makan minum obat" Kata ibu. Pearl menganguk. Pearl makan. Tiba-tiba...
"Aw! hik..." Jerit Pearl.
"Kenapa?" Tanya ibunya.
"Gigiku sakit untuk mengunyah" Kata Pearl.
"Ya sudah. Ibu belikan bubur saja" Balas Ibunya. Ibu Pearl melihat ada orang yang sedang menjual bubur didepan rumahnya. Ibu Pearl menuju kearah orang itu.
"Bu, beli buburnya 1" Kata ibu Pearl.
"Ini" Kata penujual itu seraya memberikan buburnya "4.000". Ibu Pearl pun memberikan uang 4.000 rupiah kepada sang penjual. Ibu Pearl masuk kedalam rumah lalu menyerahkan bubur kepada Pearl.
"Ini" Kata ibu Pearl sambil menyerahkan bubur tadi. Pearl memakannya dengan tenang.
Setelah makan...
"Ayo minum obat" Ujar ibu Pearl. Pearl menuruti perkataan ibunya.
"Sekarang kamu boleh tudur" Ucap ibu Pearl. Pearl menuju kamarnya dan segera tidur.
Bersambung.... Tunggu selanjutnya!!
Kejutan Untuk Rifa & Asya
Nama lengkapnya Arifani Anissa Puspita. Dipanggil Rifa. Dia berusia 12 tahun. Keluarganya hidup sederhana. Rumah Rifa berada didekat pegunungan. Karena keluarganya tak mempunyai uang, maka Rifa tak sekolah. Keinginan Rifa adalah bersekolah agar ia dapat menjadi orang yang berguna bagi bangsa Indonesia. Ayah dan ibunya, bekerja sebagai petani. Suatu hari, ia merenung dikamarnya.
"Hem... aku ingin.... sekali membantu orang tuaku. Tapi, dengan cara apa aku harus membantu mereka?" Tanya Rifa kepada dirinya sendiri.
"Kalau aku membantu mereka disawah... aku tidak bisa.. Aku tanya Asya saja!" Kata Rifa. Asya adalah sahabatnya. Asya sama dengan Rifa. Asya tidak sekolah. Orang tuanya pun pekerjaannya sama dengan orang tua Rifa. Terlihat Asya sedang duduk didepan rumahnya.
"Halo,Asya!" Sapa Rifa
"Halo juga, Rifa! Ada apa?" Tanya Asya.
"Aku mau minta saran dari kamu" Jawab Rifa.
"Saran apa?" Tanya Asya lagi.
"Aku mau bantu orang tuaku cari uang. Tapi... dengan cara apa? Kalau membantu disawah tidak bisa" Jelas Rifa.
"Em... apa,ya???" Kata Asya sambil berpikir.
"Aha! aku tau! Kamu bisa membuat kerajinan tidak?" Tanya Asya.
"Kerajinan apa?" Rifa balik bertanya.
"Ya seperti lukisan, rumah-rumahan dari stik es krim, asbak dari stik es krim, dan sebagainya" Jelas Asya.
"Bisa, kok!" Jawab Rifa singkat.
"Nah! kamu jual kerajinanmu saja!" Usul Asya.
"Aku juga berjualan seperti itu. Apa kamu mau berjualan denganku?" Sambungnya.
"Mau!" Balas Rifa bersemangat.
"Tapi dimana?" Tanya Rifa.
"Kan, disana ada jalan pintas, dan disitu banyak orang. Jadi kita jualan disana saja" KataAsya.
"Ok! Aku buat kerajinannya dulu, ya!" Pamit Rifa. Asya menganguk. Rifa pun menuju ke rumahnya. Ia memulai membuat kerajinannya.
"Sudah jadi" Kata Rifa. Kaerena hari sudah sore, Rifa langsung mandi dan sarapan. Setelah sarapan, ia membaringkan tubuhnya dikasur. Ia melihat kerajinan-kerajinannya yang ia buat tadi. Tampak cukup sederhana. Tak lama kemudian, ia tertidur.
Ia segera mandi. Waktu menunjukkan pukul 08.00. Setelah mandi dan sarapan, Rifa menuju kerumah Asya.
Tokk...tokk...tok... bunyi pintu rumah Asya yang diketuk oleh Rifa. Asya pun keluar.
"Mana kerajinanmu?" Tanya Asya.
"Ini" Jawab Rifa seraya menunjukkan kerajinannya yang dibungus kantong plastik.
"Ayo!" Ajak Asya.
"Oh iya, kamu sudah pamit orang tuamu, kan?" Tanya Asya memastikan.
"Sudah, lah!" Kata Rifa. Mereka menuju jalan pintas yang ditunjuk oleh Asya. Jalan pintas itu, jalan yang sering dilewati orang untuk menuju jalan raya. Sesampainya dijalan itu, Asya dan Rifa menata kerajinan mereka dengan rapi.
Setengah jam kemudian...
"Kok tidak ada yang beli, ya?" Tanya Rifa kepada Asya.
"Tenanglah.. pasti ada, kok!" Kata Asya menyemangati Rifa. Tiba-tiba sebuah mobil mewah berhenti didepan mereka. Keluarlah seorang ibu yang sangat cantik.
"Saya beli semuanya" Kata ibu itu. Asya dan Rifa terbelak kaget. Dengan semangat mereka membungkus kerajinan mereka yang agak banyak. Mereka masing-masing diberi uang 2 Juta rupiah.
"Bu, uang ini kelebihan" Kata Asya memberanikan diri.
"Tidak usah kembali. Simpanlah uang itu" Balas ibu tadi lalu masuk ke mobilnya dan meninggalkan mereka berdua. Mereka tampak bahagia.
"Inilah rezeki" Kata Rifa. Mereka pun pulang dengan senang.
1 minggu setelah berjualan, rumah Asya dan Rifa diperbaiki. Mereka sudah dapat bersekolah. Ternyata orang yang membeli kerajinan Asya dan Rifa adalah seorang bengsawan. Rumah Asya dan Rifa juga sudah pindah. Tetapi, rumah mereka tetap berdekatan.
"Hem... aku ingin.... sekali membantu orang tuaku. Tapi, dengan cara apa aku harus membantu mereka?" Tanya Rifa kepada dirinya sendiri.
"Kalau aku membantu mereka disawah... aku tidak bisa.. Aku tanya Asya saja!" Kata Rifa. Asya adalah sahabatnya. Asya sama dengan Rifa. Asya tidak sekolah. Orang tuanya pun pekerjaannya sama dengan orang tua Rifa. Terlihat Asya sedang duduk didepan rumahnya.
"Halo,Asya!" Sapa Rifa
"Halo juga, Rifa! Ada apa?" Tanya Asya.
"Aku mau minta saran dari kamu" Jawab Rifa.
"Saran apa?" Tanya Asya lagi.
"Aku mau bantu orang tuaku cari uang. Tapi... dengan cara apa? Kalau membantu disawah tidak bisa" Jelas Rifa.
"Em... apa,ya???" Kata Asya sambil berpikir.
"Aha! aku tau! Kamu bisa membuat kerajinan tidak?" Tanya Asya.
"Kerajinan apa?" Rifa balik bertanya.
"Ya seperti lukisan, rumah-rumahan dari stik es krim, asbak dari stik es krim, dan sebagainya" Jelas Asya.
"Bisa, kok!" Jawab Rifa singkat.
"Nah! kamu jual kerajinanmu saja!" Usul Asya.
"Aku juga berjualan seperti itu. Apa kamu mau berjualan denganku?" Sambungnya.
"Mau!" Balas Rifa bersemangat.
"Tapi dimana?" Tanya Rifa.
"Kan, disana ada jalan pintas, dan disitu banyak orang. Jadi kita jualan disana saja" KataAsya.
"Ok! Aku buat kerajinannya dulu, ya!" Pamit Rifa. Asya menganguk. Rifa pun menuju ke rumahnya. Ia memulai membuat kerajinannya.
"Sudah jadi" Kata Rifa. Kaerena hari sudah sore, Rifa langsung mandi dan sarapan. Setelah sarapan, ia membaringkan tubuhnya dikasur. Ia melihat kerajinan-kerajinannya yang ia buat tadi. Tampak cukup sederhana. Tak lama kemudian, ia tertidur.
Ia segera mandi. Waktu menunjukkan pukul 08.00. Setelah mandi dan sarapan, Rifa menuju kerumah Asya.
Tokk...tokk...tok... bunyi pintu rumah Asya yang diketuk oleh Rifa. Asya pun keluar.
"Mana kerajinanmu?" Tanya Asya.
"Ini" Jawab Rifa seraya menunjukkan kerajinannya yang dibungus kantong plastik.
"Ayo!" Ajak Asya.
"Oh iya, kamu sudah pamit orang tuamu, kan?" Tanya Asya memastikan.
"Sudah, lah!" Kata Rifa. Mereka menuju jalan pintas yang ditunjuk oleh Asya. Jalan pintas itu, jalan yang sering dilewati orang untuk menuju jalan raya. Sesampainya dijalan itu, Asya dan Rifa menata kerajinan mereka dengan rapi.
Setengah jam kemudian...
"Kok tidak ada yang beli, ya?" Tanya Rifa kepada Asya.
"Tenanglah.. pasti ada, kok!" Kata Asya menyemangati Rifa. Tiba-tiba sebuah mobil mewah berhenti didepan mereka. Keluarlah seorang ibu yang sangat cantik.
"Saya beli semuanya" Kata ibu itu. Asya dan Rifa terbelak kaget. Dengan semangat mereka membungkus kerajinan mereka yang agak banyak. Mereka masing-masing diberi uang 2 Juta rupiah.
"Bu, uang ini kelebihan" Kata Asya memberanikan diri.
"Tidak usah kembali. Simpanlah uang itu" Balas ibu tadi lalu masuk ke mobilnya dan meninggalkan mereka berdua. Mereka tampak bahagia.
"Inilah rezeki" Kata Rifa. Mereka pun pulang dengan senang.
1 minggu setelah berjualan, rumah Asya dan Rifa diperbaiki. Mereka sudah dapat bersekolah. Ternyata orang yang membeli kerajinan Asya dan Rifa adalah seorang bengsawan. Rumah Asya dan Rifa juga sudah pindah. Tetapi, rumah mereka tetap berdekatan.
Hay... namaku Relani Fevtyana. Biasa dipanggil Lani. Aku lahir tgl 07 Juni 2002. Ini adalah blog keduaku. Blog pertamaku adalah: www.cerpenrelani.blogspot. com . Blog itu sudah tidak aku pakai. Aku akan mem-posting ulang yang ada di blogku sebelumnya. Follow twitterku ya.. @Relani_Lani .Mention for follback .Sudah, segitu dulu, ya, dahh!!
Langganan:
Komentar (Atom)